Innallaaha syari’ul hisaab

Oleh: Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009)

Innallaaha syari’ul hisaab

Semuanya ada 114 Surat Cinta yang aku terima dari Allah swt. Semuanya sampai kepadaku dititipkan oleh Allah kepada Kurir Agung Baginda Rasulullah Muhammad SAW (semoga shalawat & salam Allah limpahkan kepada Rasulullah SAW dan keluarganya). Semuanya adalah penerang dan petunjuk bagiku untuk menggapai Cinta-Nya. Semuanya adalah buluh perindu di saat rindu-dendamku kepada-Nya berkecamuk. Semuanya berisi pesan untuk meraih kemuliaan.

Ya… kemuliaan; terutama kemuliaan ummat. Diantara 114 Surat Cinta itu ada 7 yang berisi bisikan Cinta yang bagiku (sebagai scientist) terasa spesial dalam upaya meraih kemuliaan itu. Dalam ketujuh Surat itu Allah swt seolah-olah berbisik kepadaku: “Sesungguhnya perhitungan-Ku maha cepat. Ayo kamu belajar algoritma untuk perhitungan cepat!” Nah, agar setiap rinduku kepada-Nya dapat mudah terlampiaskan, ketujuh Surat Cinta itu satu per satu diberi judul: Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maidah, Ar-Ra’d, Ibrahim, An-Nur, dan Al-Mu’minun. Surat Cinta yang berjudul Ali Imran lebih istimewa lagi; disitu dua kali Allah membisikkan “Innallaaha syari’ul hisaab.”

Ya. Itulah bisikan mesra yang selalu terngiang setiap kali aku merenung mencari jawab: “Atas alasan apa dan untuk tujuan apa aku berada di (MA) ITB selama lebih dari 40 tahun?” Rasanya picik bila dalam jawabanku terhadap pertanyaan ini ada terbersit aroma hedonistik. Berdosa bila hal itu terjadi. Karena kenikmatan membalas Cinta Allah tersembunyi di relung2 keakraban sosial yang ditimbulkannya.

Dalam upaya membalas bisikan Cinta nan spesial itu, beberapa algoritma telah aku publis di berbagai media spesial bergengsi. Harapannya hanya satu; menjangkau rahmatan lil ‘alamin (RLA). Bukan hanya lil Pasundan atau lil Indonesia tapi sekali lagi lil ‘alamin. Itulah esensi seorang scientist; menjadi RLA.

Innallaaha syari’ul hisaab! Tiga kata yang amat sangat dahsyat. Tiga kata inilah yang telah memberikan saham terbesar dalam membangun peradaban dunia seperti yang kita saksikan saat ini. Ketiga kata ini adalah pohon yang dahsyat berbuah lezat. Ia pohon istimewa yang memerlukan habitat dengan infrastruktur sosial yang istimewa pula untuk tumbuh berkembang dengan rindang dan berbuah lebat. Bisa saja berupa natural habitat atau man-made habitat.

Apakah kau tidak belajar sejarah? Padahal “Aku ceriterakan kisah2 para Rasul yang dengan itu Aku teguhkan hatimu” – Allah sekali lagi berbisik dalam Surat Cinta yang lain berjudul Hud. Sejarah mengajarkan bahwa secara geografis habitat itu bergeser dari zaman ke zaman. Sekitar tahun 30,000 SM wilayah yang sekarang bernama Ceko adalah salah satu habitat terbaik (Georges Ifrah, 2000, The universal history of numbers). Pada 5000 tahun SM habitat itu telah bergeser ke Mesir dimana teknologi aritmetika berkembang padahal hanya bermodalkan sifat2 bilangan genap dan ganjil (bilangan 0 belum lahir).

Sejak saat itu hingga dimulainya era Bani Umayyah di jazirah Arab, ada 4 habitat unggul di dunia yakni Mesir, Persia, India, dan Cina. Keempatnya telah menjelema menjadi pusat peradaban dunia kala itu. Bani Umayyah dan Bani Abbas lalu menggeser habitat itu ke jazirah Arab dengan House of Wisdom sebagai pusatnya di Bagdad hingga awal zaman renaissance di Eropa. Apabila 600 tahun lebih sejak Bani Umayyah pusat peradaban dunia ada di dunia Muslim, maka sejak renaissance hingga saat ini pusat itu ada di dunia Barat.

Secara spesifik, sejak abad ke-19 habitat dengan infrastruktur sosial yang prima terutama berada di Perancis dan Jerman. Apa penyebab pergeseran geografis tsb? BUDAYA! Tepatnya, budaya saintifik. Memang ada juga peran politik. Namun budaya saintifik sakti seolah berdaya mistik. Akan lebih cemerlang apabila para pemain politik berbudaya saintifik.

Mari kita belajar dari Romawi. Romawi mengalami zaman gemilang di era Alexander the Great; ia pemimpin politik yang brilliant secara saintifik. Setelah Alexander, Romawi hancur luluh lantak lalu lenyap dari peta peradaban dunia karena penggantinya, Nero, adalah pemain politik (maaf, bukan politisi) yang tidak berbudaya; jangankan budaya saintifik, budaya moyang pun miskin. Kesukaannya menebar revolusi.

Kalau begitu, apa penyebab lunturnya budaya? Fatamorgana dunia! Bahaya kecintaan kepada fatamorgana dunia bahkan sudah diingatkan oleh Plato sejak 24 abad yang lalu melalui cave allegory; dunia hanyalah bayang2.

Akankah Indonesia menjadi pusat peradaban dunia? Akankah Muslim Indonesia mampu menjadi kontributor utama pada peradaban dunia? Tergantung ke mana dinamika budaya kita mau kita bawa. Jangan lupa, budaya adalah benda abstrak yang hidup & dinamis. Budaya membentuk values. Lalu values membangun peradaban dan peradabanlah yang meninggalkan jejak2 sejarah.

Budaya bukan untuk dikultuskan. Melalui peradaban, budaya adalah untuk dipertandingkan di sirkuit perlombaan intelektual secara global. Budaya adalah untuk dibudidayakan agar tidak mandul dan agar berkembang secara dinamis mewujudkan keunggulan ras homo sapient.

Hanya apabila budaya Indonesia kita bawa ke BUDAYA SAINTIFIK yang globally competitive, insya Allah menjelang peringatan 1 (satu) abad kemerdekaan kita, Indonesia akan mampu memberikan kontribusi yang signifikan kepada peradaban dunia. Inilah JIHAD AKBAR yang menantang ummat Muslim Indonesia; jihad intelektual dalam lingkup global. Insya Allah kita bisa asal kita mulai bekerja dari sekarang.

Mengapa harus budaya saintifik? Karena ini satu-satunya medan yang tersedia untuk berkompetisi diantara semua ras manusia. Tidak boleh dilupakan, Allah swt memberikan kepada manusia Indonesia kualitas & kapasitas otak yang sama dengan yang diberikan kepada manusia lain di dunia.

Bagaimana caranya? Banyak jalan. Namun yang jelas, ada 2 (dua) jalan yang utama:
(1) Sajikan masa depan hari ini kepada pelajar SD – mahasiswa. Lalu, siapkan mereka agar dapat meraih Nobel Prize dan/atau Fields Medal menjelang HUT RI ke-100 tahun 2045. Catatan: Fields Medal adalah Nobel Prize nya bidang matematika.
(2) Perluas dan perdalam pegaulan saintifik internasional. Budaya/values berkembang atau menciut disebabkan oleh kualitas dan kuantitas pergaulan dengan budaya/values lain yang beradab.

Di saat ummat Muslim Indonesia telah mempunyai 1 (satu) saja Nobel Laureate atau Fields Medalist, dapat dipastikan geososiopolitik di Indonesia akan berubah drastis. Ummat Muslim dapat dipastikan sangat powerful. Untuk itu, ummat harus membangun infrastruktur sosial yang diperlukan. Dan, mulailah dengan membangun budaya saintifik yang globally competitive. Jago kandang tidak akan mengundang maslahat yang terpandang untuk datang.

Sekali lagi, itulah jihad akbar yang menantang agar ummat terpandang. Anda berminat untuk merealisasikan gagasan ini untuk menyiapkan calon2 peraih Nobel Prize dan/atau Fields Medal menjelang HUT RI ke-100? Mari bergabung bersama kami untuk Indonesia yang cemerlang di dunia. Kami adalah perpaduan antara mereka yang punya wisdom dan mereka yang punya energi.

Selamat berkarya,
Maman A. Djauhari (Pensiun dari ITB tahun 2009)

Categories: Berita Internasional

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s