Refleksi Perjalanan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia

Silaturrahim Nasional Forum Ukhuwah Islamiyah 2019
“Refleksi Perjalanan Penguatan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia”
Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat

Rabu, 18 Desember 2019/21 Rabi’ul Akhir 1441 H, bertempat di Lantai 4 Gedung MUI Pusat, Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat kembali menyelenggarakan Forum Ukhuwah Islamiyah yang mengundang para pimpinan ormas Islam dan ormas Pemuda Islam, perwakilan Komisi dan Lembaga bahkan unsur pimpinan MUI Pusat. Forum ini dihadirkan sebagai wadah silaturrahim dan dialog di antara para ulama dan pengurus ormas Islam agar terjadi saling sinergi dan aliansi dalam melakukan kerja-kerja dalam mensyiarkan Islam di Indonesia.

Drs. Saeful Bahri, selaku Ketua Panitia Acara menyampaikan bahwa pemilihan tema “Refleksi Perjalanan Penguatan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia” di rasa tepat sebagai tajuk pembahasan dalam Forum Ukhuwah Islamiyah edisi Akhir Tahun 2019 ini. Dr. Zaitun Rasmin dalam sambutannya sebagai Sekretaris Bidang Ukhuwah MUI Pusat mengucapkan rasa syukurnya atas peningkatan kualitas ukhuwah Islamiyah di Indonesia selama tahun 2019 ini. Semakin sering bertemu dan berkomunikasi akan melahirkan saling kesepahaman. Jika ormas-ormas Islam jarang bertemu atau bahkan tidak mau bertemu, maka akan ada potensi lahirnya prasangka dan tuduhan sesama kaum muslimin. MUI hadir menjadi wadah komunikasi bagi sesama ormas Islam.

Bertindak sebagai moderator, KH. Nurhasan Zaidi, S.Sos.I, Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat. Beliau membuka tugas beliau sebagai moderator dengan menjelaskan pentingnya menjaga ukhuwah. Terdapat 3 (tiga) pemateri yakni: Prof. Maman Abdurrahman (Unsur pimpinan MUI Pusat), Drs. Buya Adnan Harahap (Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat), dan Wakil Menteri Agama RI, Drs. Zainuttauhid.

Dalam paparannya, Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, Buya Adnan Harahap, menjelaskan sejarah dan kiprah Komisi Ukhuwah Islamiyah selama ini dan menekankan pentingnya umat benar-benar menegakkan ukhuwah sebagaimana disyariatkan agama. Di usia beliau 81 tahun, beliau menasihati agar umat sentiasa memuliakan pendahulunya. Jika tidak bisa memberi manfaat jangan memberi mudharat, jika tidak menguntungkan jangan merugikan. Jika tidak bisa menggembirakan orang lain, jangan sampai membuat orang lain susah. Jika tidak bisa memuji, jangan mencaci.
Prof. Dr. Maman Abdurrahman dalam makalah ilmiahnya mengingatkan kosakata akhun, ukhuwah, ikhwan, akhawat, dan ikhwah dalam bentuk mufrad maupun jamak. Dalam konteks dunia hari ini memunculkan istilah ukhuwah wathaniyah, iqlimiyah, dairiyah, diniyah, dan nasabiyah. Islam memberikan bimbingannya dalam menegakkan seluruh turunan dari ukhuwah Islamiyah di atas.

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Drs. H. Zainuttauhid, menjadi pemateri terakhir dalam sesi dialog ini. Beliau mengingatkan agar umat dapat memahami mana wilayah yang memang dimaklumi berpotensi terjadi perbedaan (majal al-ikhtilaf). Beliau berpesan agar umat Islam semakin meningkatkan perannya di wilayah publik dengan ilmu dan kapasitas yang dimilikinya.

Dalam sesi dialog, animo para peserta cukup tinggi. Fakhrurrazi dari Komisi Kerukunan Umat Beragama (KUB) mengusulkan agar buku Kerukunan dijadikan standar dan dapat disosialisasikan. BKPRMI diwakili Nanang Mubarak mengingatkan tentang pentingnya Sekolah Kepemimpinan yang diselenggarakan resmi dari MUI. Ahmad Sofyan dari Literasi Muda Mathla’ul Anwar, mengingatkan pentingnya pemerintah untuk memperhatikan nasib umat Islam seperti di Uyghur dan betapa pentingnya menjaga kuantitas umat Islam yang saat ini berada di sekitar 80%.

Berikutnya, Persistri menekankan pentingnya menguatkan martabat wanita, dan masukan kepada Menteri Agama agar dapat fokus pada isu-isu yang sangat substantif daripada persoalan seperti cadar. Ulis dari BMOIWI yang merupakan gabungan dari 34 ormas wanita yang telah berdiri sejak 1967, menegaskan ingin melanjutkan kembali kerjasama yang telah terbangun dengan Kemenag sejak lama, begitupun agar MUI bersikap atas penderitan umat Islam di dunia.

Jauhar dari Syarikat Islam memberikan masukan agar ditingkatkan kualitas manajemen dengan dibentuknya lembaga persatuan dan kepemimpinan Islam di Indonesia, untuk merumuskan definisi yang jelas untuk didistribusikan kepada umat sebagai referensi, terutama agar tidak simpang siur istilah-istilah politik seperti radikalisme, dan lainnya. INSISTS turut memberi masukan bahwa problematika umat Islam dapat diperbaikan dengan perbaikan konsep-konsep mendasar dalam ilmu pengetahuan yang disajikan kepada umat, sehingga melahirkan Ukhuwah Ilmiyyah, satu bentuk ukhuwah yang dibangun di atas pondasi ilmu pengetahuan.

Wamen menjelaskan bahwa perihal celana cingkrang dan cadar bahwa hal ini terkait aturan di ASN saja yang memang memiliki aturannya. Adapun terkait persoalan pelajaran jihad, maka hal ini dimaksudkan untuk menggeser dari materi Fiqh ke materi Sejarah, adapun Fiqh Siyasah akan dikuatkan di Perguruan Tinggi sesuai tingkat nalar manusia. Terkait pendaftaran Majelis Taklim, maka ini sekedar database agar pemerintah dapat mendukung kegiatan-kegiatan strategis di masa mendatang.

Categories: Berita Nasional

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s