Prof. Wan Menutup Konferensi Internasional Pemikiran Islam di Bandung

Dalam sesi penutup International Conference on Worldview and Civilization yang mengambil tema besar ‘Rekonstruksi Peradaban melalui Pengukuhan Pandangan Alam Islam’, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud selaku Penyandang Kerusi Istimewa Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, Raja Zarith Sofiah Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation Universiti Teknologi Malaysia (RZS-CASIS UTM) menyatakan kebahagiaannya atas kualitas pembentangan para peneliti-peneliti baru yang diberi kesempatan di forum ini.

Isu-isu baru seperti Tasawuf ala Schuon atau juga Feminisme baru disadari ternyata telah menjangkiti worldview para pejuang Islam. Membangun peradaban ini bukan sekedar butuh intelektual, melainkan intelektual yang berbasis akhlak yang tinggi. Perubahan itu perlu bersabar, sabar dalam kesabaran, passion based on plan understanding, kesabaran dalam rencana besar yang terukur. Seseorang akan besar jika berdiri di atas wacana yang besar.

Di Malaysia banyak orang-orang kaya yang membangun rumah-rumah tahfizh, tapi sedikit yang mendukung pengembangan institusi pemikiran. Di sisi lain, Yahudi mendukung institusi-institusi seperti Oxford dan Standford, sehingga Yahudi mampu memegang para pemikirnya. Hal ini karena mereka memahami bahwa apa yang dunia kerjakan berbasis wacana yang dikembangkan oleh kedua institusi tersebut, langsung atau tidak langsung.

Saat awal dahulu Syed Muhammad Naquib al-Attas memulai pembangunan ISTAC, hanya untuk mencari 10 sarjana Sunni yang memahami persoalan Timur dan Barat sangatlah sulit. Sehingga akhirnya standar waktu itu diturunkan hanya kepada sesiapa yang setuju dengan ruh perjuangannya, dan mungkin belum selesai membaca semua bahan. Untuk meningkatkan kapasitas mereka setiap Malam Sabtu dilakukan Saturday Lecture Night. Latar belakang para sarjana awal waktu itu beragam, ada yang Tablighi, Salafy, JI, Ikhwani, Sufi, bahkan ada yang belum shalat dari Timur Tengah. Perlahan mereka mengalami perubahan yang signifikan.

Jika seseorang pesimis, maka Anda mengikuti jalan Iblis yang pesimis dengan janji Allah. Syed Muhammad Naquib al-Attas saat ini telah berusia 88 tahun, namun masih gemar menulis. Prinsip beliau, walaupun tidak ada yang mau mendengar, tetaplah menulis, karena tugas kita menulis untuk generasi yang akan datang. (supraha, adabmedia.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s