Prof. Wan Mengingatkan Pentingnya Keteladanan daripada Teori Belaka

Di hari yang kedua, Prof. Dr. Wan Mohd Noor Wan Daud menyampaikan gagasan terbaru yang pertama kali disampaikan di peringkat antar bangsa bertajuk: ‘Pandangan Alam dan Peradaban Islam sebagai Hadharah Fadhilah’. Beliau mengawali dengan mengingatkan akan sosok Nabi ﷺ sebagai sosok pemimpin keluarga yang mengalami banyak kehilangan dari keturunannya. Beliau ﷺ telah meneladankan bagaimana menegakkan adab dalam seluruh peri kehidupannya. Adab akan membawa manusia pada pengenalan kepada Allah dan memposisikan-Nya pada tempat yang sebenarnya, melalui pembangunan disiplin akal, jiwa dan jasad. Tamaddun adalah peradaban yang diasaskan pada ad-din, sementara peradaban jika diasaskan pada apa-apa yang dihasilkan oleh setiap generasi.

Peradaban Islam itu lahir dari berbagai penerapan elemen-elemen asasi dari agama. Ia merupakan peradaban fadhilah yang menaungi non-Muslim yang tidak saja menaunginya namun juga mengambil manfaat. Seorang sarjana Barat mengatakan bahwa peradaban Islam bukanlah Islamic Civilization tapi Islamicate Civilization yang bermakna bahwa sumbangsih non-Muslim tidak mengubah pondasi dasar atau worldview peradaban Islam.

Peradaban Yunani kuno sangatlah tinggi di zamannya namun gagal mengamalkan di tingkat pribadi dan kemasyarakatan. St. Augustin dan Thomas Aquinas banyak menulis tentang keadilan dan hikmah, namun sejarah peradaban Kristen gagal menunjukkan keberhasilannya di tingkat amalan, dan lebih bersifat sintetis yang dibahas di tingkat intelektual saja. Berbeda dengan worldview Islam, telah diamalkan bukan hanya oleh ulama dan sarjana, namun juga oleh orang-orang awam dan bukan sarjana.

Mereka hanya ikut apa yang penting bagi mereka, tanpa tertarik apa yang benar dan yang salah. Aristoteles hari ini hanya sosok yang diambil kata-katanya tanpa mengetahui bagaimana keteladanannya sebagai ayah atau suami atau peran sosial lainnya. Bahkan adakah muridnya yang melanjutkan pemikiran gurunya dan hidup dengan keteladanannya?

Ibn Khaldun menjelaskan bahwa pemerintah Islam dalam sejarah telah berhasil menyatukan seluruh pemikiran agama dengan seluruh norma manusia dan etika dasar manusia. Seorang pemikir Turki meneliti bahwa dalam rentang 1206-1750 M, selama 500 tahun, pemerintahan Islam telah berhasil mengimplementasikan berlakunya hukum syariah dan urf di masyarakat, dan para pemerintah tidak pernah mengganggu para mufti melakukan tugas mereka masing-masing. Ketika Sultan Muhammad Tughlak (1351 M) mencoba melakukannya, maka itu perbuatan asing yang tidak dikenal. Ketika Sultan Mahmud Syah (1500 M) mencoba mengintervensi agama, diprotes oleh Qadi di masanya. Khalifah Muhammad bin Hadi al-Mansur di Andalusia, meski suka minum arak, namun tidak pernah mempublikasikan perbuatannya itu, atau bermakna ia tidak meliberalkannya secara hukum, bahkan beberapa tahun sebelum wafat ia berhenti minum arak. Di Turki, para Sultan sejak awal seperti Sulaiman al-Kanuni, selalu meletakkan diri mereka bergerak di atas hukum syarak.
Apa yang rugi jika umat Islam ini tidak ada? Seorang pemikir menjelaskan ada 30 bidang yang akan kehilangan. Namun yang paling substantif sebenarnya bahwa dunia akan kehilangan contoh bagaimana menjadi a good human being, bukan sekedar teori menjadi orang baik.

The age of success and happiness dapat ditemukan di Madinah. Bangunan masjid begitu sederhana saja di saat itu. Para sahabat tidur dengan mudah di tempat yang biasa saja. Peradaban itu tegak tidak di atas materi. Abbasiyah memang keunggulannya hebat di kemudian hari, namun masih kalah sukses tentunya jika dibandingkan dengan Madinah.

Prof. Wan mengkritik 2 (dua) sarjana di Barat hari ini, yakni Prof. Khalid dan Dr. Husain. Khalid, seorang Profesor di California, menyatakan hari ini bahwa umat Islam mundur karena umat Islam terlalu meyakini pendapat ulama masa lampau. Seharusnya, menurut beliau, pendapat para ulama masa lampu sekedar dianggap opini semata. Ad Husain dalam karya terbarunya The House of Islam, mengkritik golongan radikal dan ekstrimis, juga wahabi dan salafiyyah ekstrim, namun ia mewacanakan bahwa hal ini trjadi karena ia terlalu yakin dengan keyakinannya, sehingga keyakinan itu perlu digoncangkan.

Sepatutnya perlu terus ditumbuhkan keyakinan dengan beradab, sehingga bukan keyakinan ala Khawarij yang sombong kepada Nabi ﷺ dan sahabat sehingga berani mentakfir Aisyah dan Ali r.a., bahkan menilai tindak tanduk Rasulullah ﷺ dalam pembagian harta rampasan perang. Jika Nabi gagal mengislamisasikan zamannya, maka tidak perlu ada konsep khatamunnabiyyin. Konsep ini hadir untuk mengukuhkan bahwa periodenya layak dijadikan referensi oleh generasi berikutnya sampai akhir zaman.

Terhadap pertanyaan peserta tentang bedanya ideologi dan worldview, beliau menegaskan bahwa ideologi dan worldview sama-sama rumusan manusia, namun Islamic Worldview adalah rumusan manusia melalui tanzhir, sementara ideologi adalah semata-mata rumusan manusia.

Perang Jamal yang menyebabkan kematian 10.000 muslim adalah fakta sejarah, namun penyesalan dan taubat dari ‘Aisyah r.a. dan ‘Ali r.a. itulah yang menjadi pelajaran, sebagaimana para ulama sejarah memasukkan Muawiyah ke dalam barisan sahabat karena ia menangis saat mengetahui keutamaan ‘Ali, meskipun fakta sejarah dimana Yazid ditetapkannya sebagai khalifah. Posisi Muawiyah di Mesir (Syam) pada saat itu menjadi salah satu persoalan dalam dimensi jarak, informasi dan ilmu. Kesilapan dalam sejarah kehidupan jangan menjadi justifikasi penghalalan yang haram dalam tingkat idea, maka ini kufur. Seorang yang zhalim mengetahui bahwa dirinya berbuat zhalim, sementara seorang yang kufur akan menjustifikasi kekufurannya untuk berbuat zhalim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s