Pembukaan International Conference on Worldview and Civilization 2019

Sebuah perhelatan berskala internasional yang digagas oleh murid-murid Syed Muhammad Naquib al-Attas berlangsung di Kota Bandung selama 3 (tiga) hari, 8-10 November 2010, bernama International Conference on Worldview and Civilization. PIMPIN yang dikomandani oleh Dr. Wendi Zarman dipercaya oleh CASIS untuk menjadi Event Organizer dari kegiatan ilmiah ini.

Mengambil tema “Rekonstruksi Peradaban melalui Pengukuhan Pandangan Alam Islam“, kegiatan yang berlangsung di Cipaku Garden Hotel ini dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Wan Mohd. Noor Wan Daud, selaku Penyandang Kerusi Istimewa Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan sebagian murid-murid Al-Attas yang sebagian dari mereka menamakan perkumpulan ini sebagai ‘Attasian’. Tradisi yang menarik dalam inisiatif acara kali ini adalah seluruh pemateri hadir dari masing-masing negara asal dengan biaya sendiri untuk saling bersilaturrahim dan saling berbagi upaya masing-masing dalam menerapkan konsep-konsep yang digagas Al-Attas.

Dalam sambutannya Dr. Khalif Muammar A. Harris, Pengarah RZS-CASIS UTM, menjelaskan bahwa gerakan intelektual yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas ini berawal di tahun 1973 dengan kajian atau syarah “Risalah untuk Kaum Muslimin”. Tulisan ini kemudian berkembang menjadi buku Islam dan Sekularisme di tahun 1978. Gagasan ini kemudian berpuncak di saat lebih dari 300 ilmuwan Islam berkumpul di Makkah, hingga kemudian lahirlah gagasan pentingnya lahir sebuah universitas Islam.

Attasian adalah murid-murid Al-Attas yang memahami gagasan itu dalam bidang masing-masing dan mencoba menerapkan gagasan tersebut. Gerakan intelektual ini tidak bersifat politik dan meraih kekuasaan, namun murni gerakan ilmiah. Al-Attas menegaskan bahwa beliau tidak tertarik dengan kekuasaan, bukan berarti tidak peduli. Gerakan ini menjadi jembatan melalui pendidikan.

Ciri gerakan ini adalah dynamic stabilizer. Bahwa ada perkara-perkara yang tetap atau tidak berubah. Ini yang membedakan kita dengan gerakan neo-modernis yang sentiasa ingin mempersoalkan dari perkara-perkara yang telah established. Ada perkara yang mesti dikekalkan sebagaimana kesepakatan para ulama selama 1400 tahun. Pada saat yang sama kita tidak dilarang untuk berkembang dan berubah. Inilah sifat peradaban Islam dimaksud.

Istilah pandangan alam atau worldview adalah ijtihad baru yang belum pernah digunakan di masa lalu. Bagaimana Al-Ghazali membesarkan Al-Juwaini atau bagaimana Asy-Syafi’i membesarkan Malik bin Anas, maka demikianlah Attasian membesarkan gurunya dengan tanpa maksud untuk mengkultuskannya.

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud selaku Penyandang Kerusi Istimewa Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, Raja Zarith Sofiah Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation Universiti Teknologi Malaysia (RZS-CASIS UTM), menjelaskan bahwa ketika karya Islam dan Sekularisme diangkat tahun 1978 oleh Al-Attas, hal ini bermakna 30 tahun sebelum Samuel Huntington menulis The Clash of Civilization, Al-Attas telah mengangkat isu persoalan utama dunia. Bagi Edward Said, karya Samuel Huntington menjadi sekedar The Clash of Definition.

Arnold Toynbee, seorang pakar sejarah dunia, pernah menulis tentang masalah di tubuh umat Islam di Asia Tengah, dengan lahirnya an-Nasafi dan al-Bukhari. Umat Islam di Asia Tengah dianggap sebagai raksasa yang sedang tidur, jangan dibangunkan. Bagi al-Attas, sebagaimana umat Islam di Asia Tengah, umat Islam di Melayu pun bukan saja raksasa yang sedang lupa tapi sedang keliru dengan definisi-definisi di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s