Kelahiran Pemikiran Islam Liberal di Indonesia


Oleh: Al-Farozil

Embrio munculnya pemikiran Islam Liberal lazimnya selalu dikaitkan dengan nama Nurcholish Madjid. Peristiwa pertama yang mengaitkan Madjid sebagai pencetus Islam Liberal adalah pidatonya pada acara silaturrahim Idhul Fitri yang diselenggarakan HMI, PII, GPI (Gerakan Pemuda Islam), dan Persami pada tanggal 3 Januari 1970. Sedianya dalam acara itu diundang hadir Alfian (seorang intelektual Muslim dari LIPI) namun ia tidak dapat hadir. Sebagai penggantinya ditunjuk Harun Nasution (seorang sarjana Islam Rasionalis dari IAIN Jakarta), juga tidak dapat hadir. Akhirnya, Nurcholish Madjid-lah yang menggantikan mereka berdua. [1]

Dalam pidatonya Madjid menyampaikan tentang kondisi umat Islam yang jumud akibat terus mengulang-ulang keinginan memperjuangkan berdirinya kembali negara Islam melalui partai-partai Islam. Padahal pada kenyataannya partai-partai Islam tidak dapat membangun citra postif dan simpatik, bahkan yang ada citra sebaliknya. Karena itu, Madjid mengusulkan satu jargon kontroversial, “Islam Yes, Partai Islam No!” Ia juga mengusulkan agar umat Islam harus lebih mengutamakan kualitas dari pada kuantitasnya; partai. Untuk itu, umat Islam perlu melakukan “sekularisasi” pemikiran, berfikir bebas, dan terbuka. Untuk itu pula diperlukan kelompok pembaruan yang “liberal”.[2]

Mengenai liberalisasi, ia menyebut satu bab khusus dalam pidatonya “Liberalisasi Pandangan terhadap Ajaran-Ajaran Islam saat ini”. Pada bab itu, ia menekankan: “…pembaharuan harus dimulai dengan dua tindakan yang satu sama lain erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi masa depan. Orientasi masa lampau dan nostalgia yang berlebihan harus digantikan dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu, diperlukan suatu proses liberalisasi.” [3]

Untuk menuju proses liberalisasi itu, menurut Madjid, salah satu di antaranya adalah dengan melakukan sekularisasi. Berdasarkan analisanya atas berbagai kondisi yang menimpa umat Islam saat itu, ia mengusulkan harus ada kaum “intelektual liberal” yang melakukan apa yang diusulkan di atas. Kaum intelektual liberal yang dimaksud bukan yang selama itu disebut sebagai kaum pembaru, antara lain; Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam. Madjid menganggap organisasi-organisasi tersebut telah jumud dan berhenti menjadi pembaru. Ia berharap pembaruan itu lahir dari kalangan terpelajar yang saat itu hadir dalam acara silaturrahim tersebut antara lain Persami, HMI, PII dan GPII. [4]

Pidato Madjid ini segera mendapatkan berbagai tanggapan, baik dari kalangan intelektual muda Islam maupun para seniornya. Kalangan muda yang memberikan tanggapan antara lain Endang Saifuddin Anshary, Ismail Hasan Metareum, dan Abdul Qadir Djaelani. Sementara itu dari angkatan tua adalah Prof Rasjidi, Mohammad Natsir, dan juga Hamka. Semua tidak sepakat dengan tawaran “sekularisasi”, “liberalisasi”, atau jargon kontroversial “Islam Yes, Partai Islam No!” yang disampaikan Madjid. [5] (mengenai tanggapan dari berbagai kalangan di atas tidak akan dijelaskan pada tulisan ini).

Polemik yang berkembang luas melalui media massa seperti Tempo dan Pandji Masyarakat setelah pidatonya tahun 1970 itu rupanya tidak membuat Madjid bergeming dari pemikirannya. Ia malah memperkukuh pendapatnya saat diundang menyampaikan orasi kebudayaan di Taman Ismail Marzuki Jakarta tahun 1972 atas undangan Dewan Kesenian Jakarta, setelah sebelumnya pidato tahun 1970 direvisi dan diterbitkan kembali dalam Bulletin Arena tahun 1972. [6]

Judul orasinya adalah “Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”. Isi orasinya kurang lebih merupakan pengembangan lebih lanjut atas pidatonya terdahulu. Hanya saja ia menghindari kosa kata yang diperdebatkan di media massa, yaitu “sekularisasi” dan “Islam Yes, Partai Islam No!” Selain itu semakin memperjelas aspek-aspek fundamendal dari pemikirannya. Ia menguraikan tentang posisi manusia, tuhan, keberagaman, dan kehidupan dunia. Pada tulisan tersebut, semakin ditemukan ke mena arah pemikiran Madjid sesungguhnya. Pokok-pokok pikiran paragdimatik itulah yang sampai saat ini menjadi sasaran kritik dari Peneliti INSISTS yang sama-sama fundamental dan paragdimatik.

Secara simplisit, pemikiran paragdimatik yang ditawarkan Madjid untuk memperbaharui pemikiran Islam adalah sebagai berikut. Pertama, Madjid meletakkan pengalaman beragama sebagai pengalaman individual yang mestinya menjadi pengalaman individu. Inilah yang disebut sebagai prinsip iman. Iman bagi Madjid adalah urusan individual dan sangat individual sifatnya. Prinsip ini secara tidak langsung menegaskan penolakan urusan agama menjadi urusan publik. Sebab, bila agama telah dibawa menjadi urusan publik, berarti sifat individunya menjadi tidak bermakna (privatization of religion).

Kedua, Tuhan yang sifatnya mutlak merupakan entitas yang tidak dapat dijangkau oleh manusia yang nibsi. Seandainya Tuhan dapat dijangkau, kemutlakannya menjadi tidak bermakna. Karena itu, apa yang dikerjakan manusia yang disebutnya sebagai amal shalih hanyalah upaya manusia berproses menuju Tuhan yang tidak akan pernah dijangkaunya itu. Amal shalih ini juga harus merupakan bukti dari keimanannya. Sebagai bukti dari keimanan dalam pengertian di atas, maka amal itu harus serasi dengan alam dan lingkungannya. [7]

Ketiga, manusia mustahil dapat mengetahui hukum-hukum alam yang diciptakan Tuhan secara harmonis. Apa yang diketahui manusia hanyalah usaha yang sifatnya tidak pasti untuk menciptakan kehidupan yang harmonis sebagai tuntutan amal shalih seperti yang dijelaskan di atas. Prinsip ketiga ini (relativisme) merupakan prinsip epistemologis yang dipegang oleh Madjid yang akan berkembang menjadi berbagai cabang pemikiran yang dewasa ini menuai banyak kritikan dari kalangan intelektual INSISTS sebagai upaya melindungi akidah umat Islam.

Keempat, memisahkan antara iman dan ilmu. Iman adalah satu wilayah untuk menjangkau yang ukhrawi sedangkan ilmu yang digunakan untuk menjawab tantangan duniawi. Ilmu hanya berhubungan dengan imam dari segi motif. Imam mendorong manusia menemukan ilmu untuk menjawab problem-problem duniawi. [8] Demikianlah ulasan ringkas pemikiran Madjid dan pengaruhnya di dalam menyemai bulir-bulir jahiliyah modern di bumi pertiwi.

Selanjutnya, mari kita potret pertumbuhan generasi keduanya. Nurcholish Madjid bukan hanya sekedar seorang pemikir. Dia adalah juga seorang aktivis yang memiliki jaringan dan pengaruh kuat dalam organisasi tempatnya berkiprah. Saat menyampaikan pikiran-pikirannya pada tahun 1970 itu, ia tengah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) untuk kedua kalinya. HMI saat itu merupakan organisasi kemahasiswaan Muslim terbesar di Indonesia sejak berdirinya tahun 1947.

Madjid sendiri dalam sejarah HMI tercatat sebagai satu-satunya yang pernah menjabat ketua umum PB HMI untuk dua periode (1967-1969 dan 1969-1971). Menurut catatan Ahmad Wahib, saat menjabat ketua umum periode pertama inilah Madjid menjadi liberal, terutama setelah ia diundang Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk melawat ke Negeri Paman Sam itu di bawah sponsor CLS. Alasan di balik undangan ini, menurut seorang pejabat Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, ialah “sekedar memperlihatkan apa yang ia benci selama ini”. [9]

Perubahan pemikiran Madjid dari yang tadinya anti barat dan pro terhadap kelompok Masyumi mulai terlihat saat kongres HMI IX di Malang (3-10 Mei 1967) yang mengamanatkan dirumuskannya panduan baru bagi ideologi HMI yang dikenal dengan nama NDP (Nilai Dasar Perjuangan). Dalam kongres IX itu, Nurcholish Madjid, Imamuddin Abdulrachim, Endang Saefuddin dan Sakib Machmud ditugaskan untuk menyempurnakan drafnya. Dalam kenyataannya Madjid memberikan andil terbesar terhadap revisi akhir NDP itu. [10] Versi akhir NDP inilah yang memperlihatkan pemikiran Madjid semakin diperjelas dalam pidato kontroversialnya tahun 1970 dan 1972 yang telah dijelaskan di atas.

Walaupun interpretasinya atas NDP oleh para perumusnya cukup beragam, namun pengaruh yang paling kuat di antara keempat orang di atas terhadap HMI tetap berada di tangan Nurcholish Madjid. Tidak mengherankan apabila kemudian rujukan dominan yang dipegang kader-kader HMI periode berikutnya sebagai tafsir atas NDP adalah tulisan-tulisan Madjid. Alhasil, setiap persebaran HMI ke berbagai daerah, sekecil apapun kadarnya, pasti akan mendapatkan pengaruh dari pemikiran Madjid yang membawa norma dan dogma liberal melalui NDP yang dirumuskannya. Pada fase inilah kader-kader HMI mulai gadrung pada pemikiran baru yang ditawarkan Madjid yang secara langsung maupun tidak mereka dapatkan dalam materi wajib dasar ideologi HMI, yaitu NDP. [11]

Cukup berpengaruhnya Madjid di HMI diperjelas dengan sebagian besar penerus pemikiran liberalnya adalah kader-kader HMI atau paling tidak pernah bersentuhan dengan HMI. Tokoh-tokoh seperti; Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib yang juga sama-sama memiliki pemikiran liberal seperti Madjid adalah rekan-rekan sejawatnya di HMI. Generasi yang lebih muda seperti Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, Bachtiar Effendi, Fachry Ali, dan bahkan Ulil Abshar Abdalla adalah kader-kader yang pernah mengenyam kaderisasi di HMI. Memang tidak semua kader HMI setuju dengan pemikiran Nurcholish Madjid, bahkan tidak sedikit yang menjadi penentangnya. Akan tetapi, melalui kaderisasi HMI inilah, salah satunya, pemikiran-pemikiran Islam Liberal mendapatkan saluran persebarannya. Demikian sekilas, tentang tumbuhnya liberalisasi Islam di tubuh HMI.

Sahabat sekalian, tidak pantas seseorang muslim menjatuhkan dirinya ke dalam cobaan yang tidak mampu dia hadapi. Bila anda tidak mempunyai keilmuan yang mumpuni maka jangan beri kesempatan kepada ahli bid’ah (liberal dan ajaran sesat lainnya) untuk bicara atau mengemukakan pemikirannya kepada anda. Apalagi sampai ikut berdebat atau bahkan masuk di dalam alur kaderisasinya.

Karena mungkin saja ia dapat membuat keragu-raguan di dalam hati anda, sementara anda tidak mempunyai kemampuan untuk menangkisnya. Barangkali lidah anda mampu anda kuasai, tapi hati anda bisa saja terpengaruh dengan kebid’ahan dan kesesatan itu. Apalagi kalau memang orang itu jago dalam beretorika, pintar mendoktrin dan berdebat.

Rasulullāh saw. bersabda: “Di antara kehebatan retorika itu betul-betul ada yang mengandung sihir”.

Bukanlah suatu kehebatan apabila anda memusatkan pendengaran anda terhadap kebid’ahan dan kesesatan, tetapi yang hebat itu adalah orang yang tidak membiarkan dirinya jatuh dari awal kepada fitnah.

Mari tadabburi lagi Sabda Rasulullāh saw, “Siapa yang mendengar tentang kemunculan Dajjal maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allāh, sesungguhnya seorang laki-laki mendatanginya dan ia mengira bahwa dirinya seorang yang beriman lalu ia mengikutinya, akibat syubhat-syubhat yang ia (Dajjal) sampaikan”.

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini; tidak pantas bagi kita untuk menjatuhkan diri kepada bahaya syubhat sekalipun kita sudah merasa mempunyai ilmu yang matang untuk itu. Jangan sampai kita terlalu percaya diri tidak akan terpengaruh ketika banyak mendengar hal-hal yang mengandung syubhat. Banyak sedikitnya akan membawa dampak negatif terhadap cara pikir kita.

Walakhir, dari fakta di atas, terlepas anda fahami atau tidak. Kita tidak sedang menyoal perihal cabang-cabang agama yang boleh berbeda dan bisa berubah (mutaghayirat), tapi kita menyoroti hal pokok (ushul) yang (tsawabit) sebab gagasan yang ditawarkan oleh pengusung faham sekulerisme-liberalisme adalah dogma dan norma syirik-jahiliyah modern yang dapat meruntuhkan akidah seorang muslim. Jadi, ini soal keimanan, ini soal epistemologi, kesalahan di dalam epistemologi bukan hal sepele bagi setiap muslim, konsekuensi dapat berakibat fatal karena terkoneksi secara langsung dengan akidah.

Wallahu A’lam.

Referensi
[1] Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke 20, hlm. 524-525
[2] Nurcholish Madjid, Islam, Kemoderenan, dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan Pustaka, hlm. 247-259
[3] Nurcholish Madjid, Islam, Kemoderenan, dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan Pustaka, hlm. 247-259
[4] (Madjid, 2015: 250-251)
[5] Syafi’i Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia; Sebuah Kajian tentang Cendikiawan Muslim Orde Baru, Jakarta: Paramadina, 1995, hlm. 59-65
[6] Tiar Anwar Bachtiar, Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017, hlm. 48
[7] Ibid, hlm. 49
[8] Ibid, hlm. 50
[9] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian, Jakarta: LP3ES, 1981, hlm. 161
[10] Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke 20, hlm. 523
[11] Tiar Anwar Bachtiar, Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2017, hlm. 50

Categories: Opini

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s