Refleksi Hakikat Merdeka

Oleh: Al-Farozil*

Apakah hari ini kita betul-betul telah merdeka? Lalu apakah hakikat merdeka itu? Mari merenung dan berpikir.

Pertama; sesungguhnya, Rasulullāh saw., lah yang benar-benar telah membawa manusia kepada hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya, mengajak manusia keluar dari keterjajahan fisik maupun pemikiran saat Beliau saw., mengajak seluruh manusia untuk mengucapkan kalimat agung, “lā ilaha illallāh”.

Merdeka dari setiap penghambaan diri kepada selain Allāh sebab taat dan tunduk seharusnya hanyalah kepada Allāh. Pantangan menyembah kepada sesama makhluk dalam bentuk apapun. Entah berwujud atau tidak berwujud. Baik benda fisik bentukan teknologi. Atau pada doktrin pemikiran, ideologi, worldview, dan seterusnya. Izzah dengan kepala tegak di depan siapapun pada selain Allāh. Tidak takut pada kekuatan dan kekuasaan makhluk. Tidak segan dan menunduk sebab harta dan pangkatnya. Lantas tidak rendah diri sebab tidak memiliki dunia seperti yang mereka punyai. Kemuliaan kita ada pada keyakinan dan ketundukan kepada Allāh. Izzah di atas agama Islam yang hanif.

Kalaulah masih banyak berharap dan bergantung kepada selain Allāh belumlah disebut merdeka. Selagi lisan terus terkunci untuk lantang meneriakkan kebenaran dan menolak tegas kemungkaran karena takut berpisah dengan kedudukan, pangkat dan jabatan dunia, janganlah teriak merdeka. Kalaulah kepala masih tunduk pada kekuatan dan kekayaan asing, buanglah yel-yel merdeka itu. Kita masih terjajah !!!

Kedua; merdeka sesungguhnya belumlah diperoleh sebelum terbebas dari jilatan api neraka. Allāh berfirman, “Barangsiapa dibebaskan dari api neraka dan di masukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan” (Ali-Imran: 185).

Kata Ulama kita baru betul-betul merdeka ketika kita selamat dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Maka, selagi kita masih di dunia ini, kemerdekaan hakiki belumlah bisa dicapai, sampai kita bebas dari azab neraka. Benarlah uangkapan Rasulullāh bahwa dunia ini penjara bagi orang-orang beriman dan surga bagi orang-orang kafir.

Dengan hidupnya dua doktrin tersebut. Mantapnya dan kokohnya akidah, dan kesadaran bahwa dunia ini bukanlah tujuan utama, bahkan dunia ini hanyalah penjara. Maka secara inheren akan melapangkan dan meluruskan hati untuk mengaktualisasi tanggung jawab hidup sebagai hamba Allāh sekaligus sebagai khalifah Allāh di dunia ini.

Kalaulah doktrin tersebut hidup subur dalam sanubari seluruh entitas bangsa serta para pemimpinnya, maka bangsa ini akan merdeka sepenuhnya. Indonesia tidak melulu mengekor kepada kekuatan dan kekuasaan asing. Pemimpin tidak akan sudi bangsa ini rukuk dan sujud kepada asing, bahkan menjadi kacung asing. Dan bangsa ini tidak akan terus terjajah sampai hari ini, bangsa ini akan lepas dan bebas dari intervensi asing; politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan seterusnya. Rakyat dan Pemimpin akan mampu saling tolong-menolong dalam manegakkan “ta’muruna bil ma’ruf wa tanhawna anil munkar”.

Selama lebih dari 70-an tahun, bangsa ini secara de-fakto dan de-yure telah merdeka tapi ternyata belum benar-benar dapat menikmati kemerdekaan, sebab belum bisa lepas dari kekuatan asing. Politik misal, selalu ditumpangi oleh tumpangan gelap kepentingan asing. Dan, tentu motifnya adalah ekonomi strategis. Lalu apa artinya merdeka jika esensi dari kolonial (mengeruk kekayaan bangsa) masih hidup dan bahkan terus dilegitimasi. Di era informasi sekarang hal semacam ini telah menjadi rahasia umum bukan?

Baru-baru ini saat KUHP warisan Belanda hendak di dekonstruksi, terutama yang berkaitan dengan asusila pada pasal 284, 285 dan 292 (zina, perkosaan dan LGBT), yang kental dengan norma-norma Barat dan bertolak belakang dengan filsafat Pancasila dan living flow yang hidup di Indonesia. Bukankah kita saksikan sangat cepat respon duta-duta asing dan bahkan ada utusan khusus dari PBB hanya untuk lobi-lobi agar usaha ini gagal? Ini merupakan wujud dari intervensi hukum dan tata nilai asing kepada bangsa Indonesia. Lalu, apalah arti merdeka jika dalam tata nilai saja harus terus mengekor pada intervensi masyarakat Eropa yang jelas bertolak dengan living flow yang hidup di negeri ini. Dampaknya kita rasakan bukan? Tumbuh suburnya secara sporadis dekadensi moral dan ketiadaan adab umpama tumbuhnya jamur di musim penghujan di dalam tubuh bangsa Indonesia yang konon ber-Tuhan dan beradab ini.

Di era orde baru bangsa ini di selamatkan dari kejahatan komunis, pada orde lama umat Islam ditekan dan disingkirkan dengan strategi rust and orde-nya Soeharto tapi bangsa ini diselamatkan dari PKI dan dari kekuatan teknokrat asing sementara di era reformasi saya belum tau bangsa ini diselamatkan dari apa? Sebab banyak persoalan yang rasa-rasanya Umat tidak didukung oleh kekuatan negara. Tetapi pernyataan ini bukan afirmasi bahwa orde lama dan orde baru pemilik konsep ideal. Lalu apa salahnya? Itulah yang perlu di evaluasi dan dipikirkan bersama.

Tulisan ini memang membawa dogma agama (Islam), sebab menjadi sebuah keniscayaan dan sesuatu yang inheren kalau bicara Indonesia, bicara sejarah dan perjuangannya merebut kemerdekaan Indonesia maka maknanya adalah bicara perjuangan Umat Islam; Kyai dan Santri. Menyembunyikan atau bahkan menghapusnya dari kacamata sejarah adalah sesuatu yang mustahil sebab dokumen sejarah bahkan pembukaan UUD 1945 syarat akan diksi Islamic worldveiw meskipun diksi Islam telah dihapus pada tanggal 18 Agustus 1945 silam. Bahkan dipertegas lagi dengan adanya dukungan Internasional yang awal-awal diperoleh oleh bangsa Indonesia dari Negeri Islam; Palestina, Mesir, kemudian disusul oleh Suriah, Iraq, Lebanon dan Yaman. Tidak terwujudnya gagasan Indonesia sebagai Negara Islam adalah bukti besarnya toleransi Umat Islam kepada non-muslim, bahkan sampai detik-detik proklamasi “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia” diisi oleh 90% perwakilan Umat Islam. Mari mengeja ulang sejarah dari sumber yang hanif dan shahih.

Maka potret sejarah telah mengafirmasi bahwa wacana NKRI adalah milik Umat Islam. Pancasila adalah warisan Founding Father bangsa ini yang notabenenya adalah Kyai dan Santri (Ulama) secara otomatis Pancasila ialah hasil Ijtihad para Ulama. Hanya saja sampai saat ini perbedaan sikap dan perjuangan Umat dan mereka (yang mengaku nasionalis) sumber utamanya adalah perbedaan penafsiran terhadap Pancasila. Umat menafsiri Pancasila dengan ajaran Islam. Mereka menafsirinya dengan Sekularisme. Maka bangkitlah dan mari mengisi NKRI !!!

Bebaskan negeri ini yang melulu diintervensi oleh polisi berpakaian preman, militer berseragam perampok, tukang sihir berjubah wartawan dan penyiar televisi, PNS berpakaian penjahat. Sirnakan cara pikir pragmatis manusia-manusia bermental budak. Yang rela hidup di bawah telapak kaki orang lain. Yang makan dari sisa-sisa sampah kotoran para durjana.

Hiduplah sebagai manusia merdeka dan jiwa yang punya izzah serta karamah yang lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup di bawah tekanan dan bayang-bayang ketakutan. Pantangan bagi ruh yang bebas akan menjilat kepada kezaliman. Penghinaan diri dan ketundukan hanya ada kepada Sang Maha Pencipta. Hidup mulia atau mati syahid. Logika ini tidak akan dipahami dan dimiliki oleh pencinta dunia dan hal-hal rendahan.

Saatnya menatap diri, sejarah dan bangsa ini dengan kacamata inshāf (pakai shod), jangan sia-siakan perjuangan para syuhada dalam merebut kemerdekaan mari bangun dan bawa Indonesia menjadi bangsa yang beradab. Hanya saja, memang butuh perubahan paradigmatik yang mendasar pada setiap entitas bangsa untuk mengubah cara pandang dasar. Paradigma yang dapat mengikis pikiran sekuler, pragmatis, dan duniawi. Yakni pandangan Islam yang menempatkan Dīn sebagai sumber paling kaya dan oase tak terbatas untuk memenuhi komitmen moral paling serius bagi manusia, islamic worldview. Paradigma yang menjadikan ilmu sebelum segala hal, sehingga Dīn dapat berpadu padan dengan pembangunan tamaddun.

Wallahu A’lam
Ahad, 18 Agustus 2019 (Hari Konstitusi Nasional, namun pada hari inilah terma Islam di hapus dari Konstitusi sebagai wujud besarnya toleransi Umat Islam terhadap non muslim).

Categories: Opini

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s