Bingkisan Istimewa Hari Kemerdekaan: Dakwah is My Lifestyle

Oleh: Al Farozil*

Lagi dan lagi, setiap berita langit yang sampai kepada kita selalu menjadi faktual. Semua analisa sosial yang di rumuskan sang reformis dunia berangsur-angsur wujud di hadapan kita. Insan beriman tidak begitu heran melihat realita kejatuhan moral hari ini justru menjadi pemantap keimanan sebab kami membaca wahyu dan mengimaninya.

Saksikanlah bahwa hari ini zina telah menjadi lifestyle dan layaknya sebuah endemi di era digital, bahkan menjadi pandemi yang beragam bentuknya. Berikutnya LGBT, sebab fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bermula dari zina yang menjadi endemi ke berbagai bentuk kejahatan. Konten ini (red: LGBT) sedang mereka perjuangkan dengan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Kejadian di garut baru-baru ini yang viral di jagat maya merupakan wujud nyata bahwa zina semakin menjadi lifestyle . Inilah konsekuensi dari gagalnya kurikulum pendidikan dan gagalnya pola asuh dalam keluarga. Bahkan menjadi bingkisan istimewa bagi HUT RI ke 74.

Adiksi peradaban ini telah menjalar kemana-mana, bahkan telah meracuni tunas-tunas negeri. Virus ini tidak datang tiba-tiba tapi masuk berangsur-angsur dalam kurun waktu yang lama. Yang paling banyak berperan adalah media, ia membawa informasi jahat.

Berawal dari tempo doeloe surat kabar masuk desa, disusul dengan listrik, radio, televisi dan internet. Tidak banyak yang menyadari, padahal subtansi isi syarat akan makar dan upaya penjajahan adab dan moral. Bahkan terus dikampenyekan dan dilegitimasi, untuk menjadikan negeri yang berketuhanan, adil dan beradab berubah menjadi negeri yang ateis, zhalim dan biadab. Kita rasakan bukan?

Merubah gaya hidup generasi ini. Untuk menelanjangi pakaian. Untuk meracuni makanan. Untuk mematikan nurani dan nalar rabbani. Lantas terwujud dengan termaknainya kemajuan sebagai westernisasi. Informasi dari luar di telan bulat-bulat, semua yang dari Barat menjadi barang antik dan istimewa. Mulai lah dianggap biasa berduaan dengan lawan jenis yang hari ini kita kenal dengan pacaran, dulunya ini perbuatan tabu dan aib. Tapi, kini menjadi keharusan. Lantas terbuka lebarlah pintu zina. Potret ini dijelaskan secara eksplisit oleh Hamka dalam salah satu karyanya: Ghirah.

Miras menjadi kelaziman. Jika tidak mampu beli mereka gunakan lem. Sambil kumpul, main futsal bahkan dalam pesta rakyat, ini disediakan. Fenomena ini saya saksikan di desa tetangga selama KKN. Bahkan kepala desa merestui berbuatan ini sebab tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Pendek kata, seluruh dimensi kehidupan menjadi sasaran adiksi peradaban ini.

Pukulan keras dan pil pahit yang harus kita rasakan dari fenomena terkini sejatinya telah di kabarkan Rasulullāh saw. 14 abad silam. Suatu hari nanti zina dan segala turunananya akan menjadi kelaziman, bahkan orang terbaik dimasa itu adalah orang yang berkata, “seandainya dia lakukan di belakang tembok”, saat melihat aktivitas zina di jalan raya, miras dan segala kloninya akan menjadi keharusan “wa iyya dzubillāh”. Sangat pahit dan amat sakit. Oleh sebab itu Rasul terangkan bahwa orang yang istiqomah hari itu bagaikan menggenggam bara api, dan Islam akan kembali asing maka beruntunglah orang-orang asing. Demikian analisa Rasulullāh saw.

Hari ini orang-orang yang berada dalam barisan setan dengan bangga memamerkan kemungkarannya, tak segan-segan, sambil menari-nari, bahkan berupaya melegitimasi atas nama HAM. Asal tidak mengganggu orang lain, asal suka-sama suka maka wajib di hormati dan dihargai. Terjadilah keledainisasi dan upaya melegitimasi sifat-sifat hewani agar leluasa di ranah publik.

Sebagian ada yang suka menghina ulama lalu bersembunyi dibalik relativisme, yang lainnya suka memakan daging babi tapi mengaku sebagai muslim yang baik, yang satunya genjar mengajak muslimah supaya melepas jilbab lantas memakai kebaya dengan dalih merawat budaya dan cinta produk lokal tapi suka nongkrong di kedai kopi Amerika.

Oleh sebab itu. Sebagai hamba Allāh yang berada di barisan al-Haqq tak boleh ragu dan segan dalam merevitalisasi dakwah islam. Tinggkankan kualitas diri, mantapkan aqidah dan fikriyyah. Tadabburi firman Ilahi dan baca realitas sosial. Implikasikan hikmah dan ejawantahkan solusi rabbani. Bukan agar orang lain selamat, bukan agar kita hebat, tapi supaya kita selamat dan tidak terjerumus dalam kebiadanan era jahiliyah modern ini. Lalu rancang dalam amal kolektif dalam sebuah jamaah “ma lā yatimmul wajib illa bihī fa huwa wajib”. Sebab sendiri tidak akan mampu, sendiri sama saja menyerahkan diri pada keganasan serigala kesesatan.

Jelaslah bahwa, jika umat ini enggan berdakwah, maka kepemimpinan akan dikuasai oleh orang-orang yang buruk dan kebijakan yang dicetuskan pun akan buruk, pendidikan akan rusak, ilmu akan diceraikan dari iman dan amal, masyarakat akan kehilangan adab dan doa-doa kita akan ditolak oleh Allāh ta’ala.

Mari bersihkan kacamata, zoom out pandangan, dan mulailah telibat serta semangat dalam jamaah dakwah. Atau setidaknya shalihkan akun sosial media tiap kita dan gunakan untuk berdakwah. Tunjukkan bahwa wajah Islam adalah rahmat, ramah, kasih sayang, bagi sekalian alam, mampu mengisi liku sosial dan secara inheren Islam itu tegas tapi tidak radikalis, ramah tapi tidak liberalis, toleran tapi tidak pluralis, tidak ekstrimis, tidak juga liberalis. Agar dakwah kita menjadi dakwah solutif dan wajah Islam semakin tampan di mata dunia. Agar islam yang kita anut tidak hanya menjadi agama dan tidak tersipu di ruang privasi tapi ia menjadi Dīn-Tamaddun lantas eksis mengisi ruang-ruang publik dan secara impresif menjadi narasi dan karya atas problematika umat.

Wal-akhir, mari menjadi bagian dari penyelamat negeri dari keruntuhan akidah, kerusakan ibadah, akhlak, moral dan ketertinggalan prestasi. Saat mereka ucapkan hal-hal nyeleneh bin jahil murakkab sebagai lifestyle maka kita suarakan bersama dakwah adalah lifestyle dan islam is way of life sebagai bingkisan istimewa untuk negeri tercinta.

Wallahu A’lam.

Penulis adalah Tim Kaderisasi PW PII KALTIM, danSekretaris ITJ Samarinda.

Categories: Opini

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s