Lisan Keji Orang ‘Shalih’

Thaha Husein.
Namanya adalah legenda.
Legenda modernisasi dan liberalisasi.
Setidaknya di Mesir.
Meski kemudian efeknya ke mana-mana.
Termasuk di Indonesia.

Sepulangnya dari Perancis…
Thaha Husein “menggila” dengan ide-ide barunya.
Memporak-porandakan tatanan Islam
di bumi Kinanah;
negeri para qurra’,
tanah air para fuqaha’ dan ulama,
kampung halaman para mujahidin…

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu:
Jika Thaha Husein seorang penghafal al-Qur’an.
Matanya buta sejak kecil.
Ia pun dimasukkan ke salah satu “kuttab”
untuk kemudian melewati hari-harinya
bersama ayat demi ayat al-Qur’an,
mengukirnya dalam hafalan yang kukuh.

Hingga akhirnya,
Thaha Husein berhasil menuntaskan hafalannya
sebelum usianya menggenapi 10 tahun!

Hingga terjadilah hari itu dalam hidupnya…
Hari di saat ia ikut dalam sebuah musabaqah,
untuk membuktikan kualitas dirinya
sebagai seorang “hafizh”;
sebuah gengsi yang diimpikan banyak kaum beriman…

Hingga akhirnya satu “syekh” penguji memanggilnya.
Tapi tidak dengan panggilan biasa.
Setidaknya untuk seorang anak buta
yang membaktikan masa kecil untuk Kitabullah.
“Syekh” itu memanggilnya: “Hai Anak buta!”

Begitulah kononnya…

Pendek saja kalimat itu.
Tapi sudah cukuplah ia mengubah segalanya.
Panggilan keji dari lisan “orang shalih” itu
lebih sembilu di hati Thaha Husein dari apapun.

Sejak hari itu,
Thaha bergolak penuh benci
pada semua yang beraroma “al-Azhar”!
(meskipun ia sempat belajar di al-Azhar).
Ia benci pada ulama.
Pada apapun yang beraroma “agama”.

Benar sekali.
Cukup dengan “Hai Anak buta!”,
“Syekh yang shalih” itu telah melahirkan
Seorang Thaha Husein yang kita kenal hari ini:
Seorang pemikir yang tersimpang jalan,
yang mendorong wanita Mesir menanggalkan hijabnya,
yang menginspirasi lahirnya liberalis-liberalis baru,
yang buku-bukunya menjadi rujukan para Zindiq,
yang kebijakannya saat menjadi menteri pendidikan Mesir
“meruntuhkan” nilai-nilai Islam di banyak lininya…

Lisan sungguh tak bertulang.
Lisanmu adalah jejak surgamu,
atau jurang nerakamu…

Betapa kita, orang-orang yang merasa shalih;
“hanya” karena tekun merangkai sujud demi sujud,
“hanya” karena tekun merapal tasbih dan dzikir,
“hanya” karena janggut bertumbuh dan hijab terjulur,
Seringkali tak tertahankan nafsu jiwa untuk menyemat:
gelar-gelar tak patut pada selain kita…
cap-cap busuk pada yang kita anggap pendosa…

Susah benar hamba yang katanya “penuntut ilmu” ini:
untuk berhalus-lembut pada sesama kaum mukminin.
Untuk menimbang kata sebelum terucap.

Kita tak pernah tahu –wal ‘iyadzu biLlah-:
Mungkin ada satu kata kita dahulu
yang akan melahirkan “Thaha Husein” baru…
Kata yang tak pernah kita timbang
dengan timbangan akhirat yang abadi.

Wahai para ustadz-ustadzah…
Wahai para ayah-bunda…
Wahai para guru…
Wahai engkau yang bercakap di hadapan​ kamera…
Wahai engkau yang menoreh kata di latar maya…
Timbang-timbanglah dengan jiwa,
agar kata yang tercurah hanya membawa bahagia
untuk jejak-jejak akhiratmu di sana…

Bukan sekedar kata
yang puaskan nafsu bicara dan amarah kebencian.
Sebab jika kata-katamu
hanya untuk itu:
hanya sesal sahajalah yang kau tuai
di hari akhiratmu…

✍🏻 Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc, MA.

Advertisements

Categories: Hikmah

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s