Mengenal Sosok Gus Qoyyum

Nama Gus Qoyyum atau K.H. Abdul Qoyyum Mansur, kini mulai banyak dikenal secara nasional. Terlebih bila Anda tinggal di Jawa Tengah atau Jawa Timur, khususnya di kawasan Pantura dari Semarang hingga ujung timur Jawa Timur, nama Gus Qoyyum sudah sangat akrab, khususnya di lingkungan pesantren.

Gus Qoyyum saat ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Beliau menggantikan ayahandanya K.H. Mansur Kholil yang wafat pada 2002 silam.

Kiprahnya di masyarakat cukup banyak. Tidak hanya mengisi pengajian rutin di pesantrennya, beliau juga menyampaikan nasihat pernikahan, pengajian umum, juga tablig akbar, di berbagai penjuru kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Tak jarang beliau juga menjadi pembicara pada seminar-seminar di berbagai kampus, sekolah, pesantren, dan instansi pemerintah.

Di setiap ceramahnya, beliau selalu memikat dan menyihir hadirin yang mendengarnya. Daya pikat Gus Qoyyum tidak hanya pada gaya penyampaiannya yang khas, tetapi kualitas materi yang disampaikannya juga berbobot.

Meskipun sudah sangat dikenal luas di masyarakat, tapi ada banyak hal yang belum diketahui masyarakat tentang Gus Qoyyum. Berikut 5 hal yang tidak banyak orang tahu tentang diri Gus Qoyyum:

1. Tidak Lulus SD
Tak banyak yang tahu dengan segala kelebihan yang beliau miliki, juga kualitas keilmuan yang sangat mumpuni, ternyata Gus Qoyyum tidak lulus SD.

Beliau bersekolah hanya sampai kelas 5 di Madrasah Ibtidaiyah An Nashriyah Lasem. Konon waktu kecil beliau sangat nakal sehingga abahnya tidak mengizinkan beliau untuk bersekolah.

2. Tidak Pernah Mondok
Selain tidak bersekolah, beliau juga tidak pernah mondok di pesantren manapun. Satu-satunya tempatnya belajar agama, ya kepada abahnya.

Baca juga: K.H. Sholeh Darat Semarang; Mahaguru K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan

Berdasarkan penuturan orang-orang terdekat, beliau suatu kali pernah akan diberangkatkan mondok ke Pesantren Mathaliul Falah yang diasuh oleh K.H. Sahal Mahfudz di Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Entah atas alasan apa, beliau urung berangkat, padahal semua perbekalan untuk mondok sudah siap.

3. Tidak Mau Disebut Laduni
Menurut beliau, kemampuan membaca dan mengakses literatur berbahasa Arab, murni diperolehnya dari proses belajar yang panjang dengan abahnya.

Padahal, kitab-kitab yang dilahapnya merupakan kitab-kitab rujukan wajib untuk mahasiswa S3, atau bahkan menjadi pegangan para guru besar juga ulama-ulama terkemuka.

Dari usia belia, beliau sudah menggemari membaca dan mengkaji Tafsir Mafatihul Ghaib karya Fakhrudin Ar-Razi, kitab tafsir 16 jilid yang menjadi bacaan wajib di program doktoral universitas Islam di manapun untuk kajian tafsir.

Kemampuan beliau melahap kitab -kitab induk dan kitab rujukan, didukung oleh hafalan Alquran beliau.

Selepas tidak bersekolah, beliau fokus menghafal Alquran. Dan, dalam waktu relatif singkat, beliau berhasil menjadi hafiz Alquran dalam usia yang masih amat muda belia.

Kemampuannya yang luar biasa tersebut membuatnya dipercaya oleh abahnya untuk mengajar kitab-kitab induk baik dalam bidang tafsir, hadis, tasawuf, fikih, dan gramatika Arab. Yang diajar pun adalah santri-santri senior pesantren-pesantren yang ada di Lasem.

Kejeniusan beliau inilah yang membuat banyak orang menyebutnya mendapat ilmu laduni (ilmu yang diperoleh tanpa belajar).

Namun, setiap kali disebut demikian, beliau buru-buru selalu menekankan bahwa kemampuan yang dipunyai, beliau dapatkan dari proses belajar yang tekun dan berdisiplin tinggi dengan model sorogan kepada abahnya.

Kakeknya dari jalur abah bernama K.H. Kholil. Masyarakat Lasem biasa mengenalnya dengan nama “Mbah Kholil”. Nama asli Mbah Kholil adalah Masyhuri.

Tak banyak orang tahu bahwa Mbah Kholil merupakan teman akrab K.H. Hasyim Asy’ari waktu belajar di Mekah. Mbah Kholil ini pula yang ikut berperan aktif dalam pendirian Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 1926.

Tak heran, bila semasa hidupnya, Gus Dur kerap mengunjungi rumah K.H. Mansur Kholil, abah Gus Qoyyum.

5. Keponakan K.H. Sahal Mahfudz
Dari jalur ibu, Gus Qoyyum mempunyai darah keulamaan yang kental. Ibu beliau merupakan kakak kandung almarhum K.H. Sahal Mahfudz Pati, yang pernah menjadi Rais Syuriah PBNU selama beberapa periode, juga Ketua Umum MUI Pusat.

Kakek Gus Qoyyum dari jalur ibu adalah K.H. Mahfudz, yang merupakan ulama terkemuka pada masanya di wilayah Pati dan sekitarnya.

Dari jalur ibu ini pula, Gus Qoyyum mempunyai hubungan nasab dengan Mbah Mutamakkin Kajen, ulama dan tokoh penting dalam khazanah keislaman dan ketasawufan yang meninggalkan banyak karya penting, juga pejuang yang memimpin perlawanan untuk penjajah Belanda dari bumi Nusantara

Source: Datdut.

Categories: Adab Ulama

Tagged as: ,

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s